SELEBRAZINE EPS 2 · SELEBRAZINE / Culture / Local Clubs

RUMAH DAN MARWAH

Menjaga Marwah!

RUMAH DAN MARWAH

Rumah dan Marwah

Menjaga Marwah

Ada sepetak tanah yg dulunya itu sawah, hutan ataupun lahan kosong milik negara, kini telah berubah menjadi icon di kota tersebut, ada sebuah bangunan yg bisa dibilang rumah.

Rumah tersebut dibangun karena gagasan seorang pemilik saham mayoritas dulunya disebuah tim sepakbola yg masih terikat APBD. Pada zaman itu ya tau sendiri, ada nama kota disebuah tim olahraga, disitu lah anggaran apapun itu bakal ada dianggarkan.

Kalo berfikir tentang dahulu, banyak yang menyangka rumah ini milik perseorangan ataupun milik sebuah club yg akan dibangunkan rumah tersebut. (stadion mana? Stadionnya Persiba Bantul) nyatanya itu milik pemerintah setempat.

Dibangun di tahun 2000an sampai saat ini, rumah tersebut dibangun berkala, dari gundukan tanah yg miring sebagai bantalan tribun dulunya, sampai tribun VIP yang masih memakai tenda hajatan.

Rumah itu terus diperbaiki dari lantai yg hijau rata dengan tanah undakan dan rumput yang hijau, hingga saat ini sudah ada tribun VIP & VVIP dengan atap yang teduh, ya walaupun hanya satu sisi dibagian barat.

Kembali ke awal tulisan ini tercipta, rumah itu diperuntukan untuk tim sepakbola daerah di salah satu di DIY yaitu Persiba Bantul. Orang orang lawas waktu itu menyebutnya kandang e Persiba.

Kenapa bisa disebut sebagai rumah karena tempat itu pernah disinggahi orang orang dari berbagai penjuru, singgah disaat tim pemilik rumah tersebut dibilang pas Wangun wangune.

Tidak bisa dipungkiri dan diatur sepihak, roda berputar tim ini ada pasang surut prestasinya.

Kalaupun suatu saat nanti tim ini kembali merengkuh kejayaan, kalian yang dulunya berada disini, pulanglah ke rumah kita, stadion Sultan Agung Bantul.

Menjaga Marwah

Secara leksikal, marwah mempunyai arti kehormatan diri, harga diri, nama baik. Dalam pergaulan hidup sehari-hari, marwah dipadankan dengan istilah harkat martabat.

Bagaimana di dalam sepakbola?

Lebih kentalnya terdapat di supporter/pendukung suatu tim sepakbola tersebut, menjaga Marwah agar keangkeran dalam dukungan ataupun suasana didalam stadion menjadi menakutkan untuk pendukung lain atupun tim lawan yg berani datang.

Marwah dalam supporter menjadi sebuah sudut pandang atau ciri khas agar memperlihatkan bahwa mereka memiliki sebuah hal yg menakutkan bagi yg menantangnya.

RUMAH DAN MARWAH

KEMRUNGSUNG, MENUJU HARI RAYA PERSIBA

Menanglah, Menang!

    Laga ketiga Persiba telah berlalu dengan hasil yang positif dan memuaskan. Seluruh pecinta bola kabupaten ini pasti sangat senang dengan kiprah Persiba Bantul saat ini, walau masih di babak regional, sejauh ini penampilan Persiba Bantul cukup memuaskan dengan meraih 3 kemenangan.

Hasil ini berbanding terbalik dengan Liga 3 2019, seusai langkahnya terhenti di babak 32 besar. Walau berstatus sebagai tuan rumah Grup D, tim kebanggaan masyarakat Bantul ini justru terpuruk di dasar klasemen seusai di laga pamungkas dibekuk Persinga Ngawi dengan skor 0-1 di Stadion Sultan Agung, Bantul.

Dengan hasil yang cukup memuaskan musim ini, pendukung Persiba optimis akan lolos ke fase nasional. Namun, hal ini belum mampu ditentukan saat ini karena masih ada 2 sisa laga dalam grup B.

Hari ini menjadi hari yang sangat ditunggu oleh seluruh pendukung tim ndeso ini. Bisa dikatakan hari ini adalah penentu Persiba Bantul lolos ke fase selanjutnya dalam Liga 3 DIY atau tidak.

Lini masa sosial media X pun ramai dengan cuitan “Pengen gek sebtu wae”, “Sabtune kok iseh sue yo”, “Udah gak sabar hari Sabtu” dan banyak lagi.

Kemrungsung atau yang akrab di telinga masyarakat yaitu terburu buru. Mungkin kata ini bisa menggambarkan situasi kabupaten mBantul saat ini.

Banyak orang ingin segera menuju hari Sabtu. Bukan karena mereka ingin malam mingguan atau menikmati akhir pekan dengan keluarga dan orang tersayang. Tetapi mereka ingin melihat Laskar Sultan Agung berlaga serta menjadi saksi kemenangan pada hari itu.

Tentu kemenangan itu akan melengkapi akhir pekan kita setelah hari-hari berat datang menghempas.

MENANGLAH, MENANG!

Mimpi kita masih sama, Persiba Naik Kasta!

    Hari itu tim pesisir selatan kota Jogja bernama Persiba Bantul bertanding, tim kebangganku sekaligus beberapa teman di desa ku.

Jam 2 siang beberapa kawan sudah datang kerumah lengkap dengan atribut berwarna merah menyala, segerombolan anak seusiaku sudah berkumpul dengan botol bekas teh gelas diselipkan diantara ban sepeda agar berbunyi layaknya blombongan sepeda motor yang sudah mulai riuh terdengar dari rumahku.

Bersama sama bersepeda dengan membawa bendera ditengah teriknya matahari tak sedikitpun menyurutkan semangat kami. Uang patungan yang sudah dikumpulkan ditukar dengan beberapa lembar tiket pertandingan untuk memasuki stadion.

Ugiex sugiyanto melesatkan tendangan indah menjebol gawang lawanya, suara gemuruh lantang menyambut gol indah di stadion yang terkenal angker untuk lawan lawan Persiba di tahun itu.

Lambaian tangan sang kapten Ezzequeil Gonzales di akhir pertandingan disambut tepuk tangan serta sorak sorai terimakasih oleh para suporter yang disuguhi permainan cantik sore itu.

Begitu cerita singkatnya, kala itu, 2011.

Mimpi kita masih sama, Persiba naik kasta!

Memory manis kala menjuarai Divisi Utama di musim 2010/2011 masih membekas jelas di hati semua individu pendukung Persiba Bantul.
Terbukti jelas kala menonton pertandingan Persiba Bantul dari tribun barat terdengar obrolan ringan antara dua bapak bapak paruh baya.
"nah iki lagi Persiba bantul,ngono looo"
Suara lirih namun menggembirakan terdengar ketika Akbar selang berhasil menciptakan goal backheel indah di gawang JIF.
"Wis, apik iki. Nyusul ning Liga 2 wis wangun yakin! " Seru bapak satunya.
Obrolan santai yang terdengar lirih dibelakang itu membuktikan, ternyata mimpi kita semua masih sama, Persiba bantul naik kasta!
Use ← → keys