ISSUE 01 · Culture / Local Clubs
PERSIBA DAN ALASAN UNTUK TETAP PULANG
Dalam beberapa hal sepak bola memang menghadirkan kecewa berkali-kali. Namun bagi sebagian orang, sepakbola bukan sesuatu yang bisa ditinggalkan begitu saja.

PERSIBA BANTUL DAN ALASAN UNTUK TETAP PULANG
Dalam beberapa hal sepak bola memang menghadirkan kecewa berkali-kali. Namun bagi sebagian orang, sepakbola bukan sesuatu yang bisa ditinggalkan begitu saja.
Ada masa ketika menunggu kabar kejelasan tim terasa lebih melelahkan daripada menunggu pertandingan itu sendiri. Tak ada gemuruh tribun stadion, tak ada obrolan mengenai susunan pemain, dan tak ada perdebatan tentang siapa yang pantas menjadi starter. Yang tersisa hanyalah pertanyaan sederhana: kapan Tim ini kembali dibentuk?
Bagi pandemen sepak bola bantul mungkin itu sangat relate, karena tahun demi tahun tim ini belum jelas arahnya, tak jelas ada atau tidaknya.
Bagi orang luar, Persiba mungkin hanya sebuah tim sepak bola. Namanya hanya muncul ketika kompetisi dimulai, lalu perlahan menghilang ketika musim berakhir. Namun bagi pandemennya, Persiba memiliki arti yang lebih panjang. Ia hidup melalui cerita dari tribun, perjalanan tandang, kaos kebanggaan yang mulai pudar, hingga obrolan kecil di warung kopi.
Persiba pernah membawa ribuan orang datang dengan satu warna dan satu tujuan. Di dalam stadion, perbedaan latar belakang seolah tak ada artinya, semua sama rata. Semua berdiri untuk nama yang sama. Semua berharap bola masuk ke gawang lawan. Semua pulang membawa perasaan yang sama kadang bahagia, kadang kecewa, atau terkadang keduanya bersamaan.
Sayangnya, mencintai tim daerah memang tak selalu berjalan mudah.
Ada musim yang berakhir tanpa pesta. Ada harapan yang berhenti lebih cepat. Ada pula persoalan di luar lapangan yang membuat sepak bola terasa semakin jauh dari kesederhanaannya. Namun justru pada masa-masa seperti itulah hubungan antara tim dan suporternya benar-benar diuji.
Apakah kita hanya datang ketika Persiba menang?
Atau kita tetap berdiri ketika tim ini sedang mencari jalan pulang?
Dalam beberapa obrolan sebagai pandemen selalu memiliki harapan-harapan lebih terhadap tim kebanggannya. Persiba tidak membutuhkan romantisme kosong. Tim ini membutuhkan arah yang jelas, pengelolaan yang serius. Namun semua itu hanya sebatas obrolan pandemen dengan harapan besarnya. Sebagai pandemen juga tidak hanya membutuhkan janji bahwa tim akan segera dibentuk atau kompetisi akan segera dijalani.
Sebab setiap kali Persiba memulai musim baru, harapan tidak hanya berada di pundak sebelas pemain. Di sana ada harapan pedagang sekitar stadion, anak-anak yang baru mengenal sepak bola, mantan pemain, masyarakat Bantul, dan mereka yang selama bertahun-tahun menjaga nama Persiba tetap hidup dalam sebuah obrolan.
Mungkin Persiba belum berada di tempat yang kita inginkan. Jalannya masih panjang dan tidak selalu terang. Namun sejarah tim ini mengajarkan satu hal: keadaan dapat berubah ketika semua orang kembali percaya pada tujuan yang sama.
Pada akhirnya, mendukung Persiba bukan hanya tentang sembilan puluh menit pertandingan. Ini tentang menjaga sebuah identitas kota agar tidak kehilangan eksistensinya.
Tentang memastikan bahwa generasi berikutnya masih memiliki tim yang bisa mereka banggakan. Tentang sebuah nama yang akan selalu disebut ketika orang bertanya dari mana kita berasal.
Musim boleh berganti. Pemain boleh datang dan pergi. Hasil pertandingan bisa mengecewakan.
Namun bagi mereka yang telah menjadikan Persiba sebagai bagian dari hidupnya, selalu ada alasan untuk kembali.
Sebab sejauh apa pun langkah ini membawa kita, Persiba tetaplah rumah.
Dan rumah, bagaimanapun keadaannya, selalu memiliki cara untuk membuat kita pulang.
